never-ever-land…

never-ever-land

Advertisements

tesaurus

jika cinta adalah hipernim
maka kamu adalah
hiponim yang paling berelasi makna

namun,
aku sekadar ada
untuk menjadi
antonim
kamu

aku, kamu, memang ditakdirkan
tak pernah bersisian

padahal aku, kamu, termaktub dalam
kitab yang sama
tapi nasib menjadikannya berjarak;
tak pernah dalam halaman atau
bab yang sama

jika hanya aku,
jika tanpa kamu,
maka kita seharusnya menjadi
lema yang ditiadakan

palmerah, 2016


bangku taman

bangku-taman

jika suatu saat kau memilih untuk menoleh,
ketahuilah bahwa tak sedetik pun
aku berharap kau berpaling ke belakang

dan kau pun hanya akan mendapatkan
taman yang lapang sejauh mata memandang
yang mungkin hanya menyisakan
sebidang bangku taman

tapi, bukankah hidup menjadikan
nasib kita serupa bangku taman?
yang lebih sering berteman sepi
ketimbang ada yang mengisi

sebab semua yang hinggap memang
tak pernah punya niat untuk menetap

sebab yang singgah,
hanya butuh sandaran untuk melepas lelah,
hingga kemudian pergi

sebab yang datang tak selamanya hadir
untuk mengisi
mungkin hanya sekedar menunggu
seseorang, yang kemudian mengajaknya
beranjak..

pergi dan tak lagi kembali

tetapi, bukankah hidup mengutuk
kita untuk bernasib seperti
bangku taman?

juni, 2016


Tentang perjalanan via Kalimalang…

Melintasi Kalimalang dalam perjalanan Bekasi-Palmerah kali ini mengingatkan saya akan lagu Aha, “Stay on These Roads”.

Entah kenapa, muncul pertanyaan untuk mereka yang bertahan dalam sebuah perjalanan yang sarat kemacetan.

Kemacetan, tentu cuma sebagian hambatan dari perjalanan. Tadi, perjalanan sepanjang Kalimalang diwarnai hujan. Debu akibat pembangunan proyek jalan Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu), juga menjadikan perjalanan makin tidak menyenangkan. Belum lagi umpatan-umpatan yang muncul akibat aksi pengendara yang tidak beradab

Hidup tentu menawarkan sejumlah pilihan. Begitu pun perjalanan. Selalu ada alternatif atau jalur lain yang bisa kita tempuh selain melintasi Kalimalang.

Untuk menghindari Kalimalang, saya masih bisa memilih melewati Kranji, belok ke Bintara, hingga tembus ke Kanal Banjir Timur. Dari situ, perjalanan ke Palmerah bisa ditempuh dengan melewati kawasan Kuningan, Karet, dan Pejompongan.

Masing-masing jalur punya kerumitannya masing-masing. Tiap jalan punya karakteristiknya masing-masing. Mau bertahan dalam kemacetan, atau mencoba jalur lain yang lebih “menggoda” dan menawarkan rute yang lebih lowong tentu tetap ada konsekuensinya.

Seandainya bertahan, tentu harus kita bisa memperkirakan, di mana saja kemacetan itu akan muncul, dan kapan akan berakhir.

Kalau lewat Kalimalang, biasanya sih di Pasar Sumber Artha, lampu merah Klender, hingga sekitar Cipinang. Tapi jalur lancar akan terbentang selepas Kalimalang, di Cawang, MT Haryono, Gatot Subroto hingga ke Slipi.

Kalau pun hindari Kalimalang, ada kemungkinan jalan kosong terbentang di awal perjalanan. Sepanjang Kanal Banjir Timur masih sepi, tapi macet akan menghambat usai melewati flyover Kampung Melayu… terus hingga ke Karet Bivak.

Saya bukan tipe orang yang menyesali pilihan jalan yang telah diambil. Sebab, saya terbiasa untuk memperkirakan hambatan yang kira-kira membentang.

Nasib, mengutip Chairil, memang kesunyian masing-masing. Pun dengan perjalanan, penderitaan masing-masing.

Karena itu, tidak ada manfaatnya untuk menilai perjalanan orang lain. Bisa jadi ada yang menikmati perjalanan dalam kenyamanan mobil mewah, bahkan disopiri. Ada juga yang menumpang mobil (baca: kenyamanan) orang lain untuk mencapai tujuan.

Tapi persetan. Karena yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah proses yang dijalani, bukan sekedar sampai di tujuan.

Jadi buat mereka yang ragu untuk bertahan di jalan yang sedang ditempuh, ada pesan ini dari Aha:

“Stay on these roads.
Stay on, my love.
We shall meet.
I know, I know…
Where joy should reign!”

Palmerah, Februari 2016

kebetulan

londoneye1

 

hidup mungkin tidak pernah menghadirkan kita
jalan terbaik,
tapi cuma sekumpulan pilihan.

acak, dengan sejumlah kebetulan
yang saling berkelindan.

kebetulan saja kini kau memilih pergi…
larut dalam arus manusia yang bergegas.
jalan cepat, tanpa menoleh lagi ke belakang;
sebab waktu seperti terus memburu,
gerak lambat hanya akan membuatmu dimangsa kesia-siaan.

dan kebetulan saja aku tetap terpaku;
seperti bocah yang takjub dengan beragam keindahan
yang membuatku memilih diam

entah terpesona dengan kincir raksasa
yang terpampang indah
hingga enggan beranjak dari bangku taman

atau terpesona dengan alunan musik tiup pengamen jalanan
yang membius manusia dengan impian.
seperti tikus-tikus yang terjerat alunan pemusik dari hamelin.

kebetulan saja kau menganggap laju kereta underground
hanya wahana yang mengantarmu ke tempat tujuan

dan pemandangan di tiap stasiun kau anggap sekedar rutinitas
yang itu-itu saja:
kumpulan bocah yang hobi berkerumun, berlari, dan berteriak,
pasangan yang mencuri cumbu,
atau manusia yang hanya menundukkan wajah ke layar ponsel.

dan kebetulan saja aku memilih larut
dalam khayalan,
membayangkan kehidupan stasiun di bawah tanah ini serupa
alam rekaan di fiksi neil gaiman.

karena kelindan kisah
juga semata sebuah kebetulan,
bagaimana jika menunggu atau memburu
juga bermuara pada kesia-siaan?

london, november 2015


Rindu, Sepi, Hampa..

Pernahkah kalian merasakan rindu yang sangat mendesak, menggeliat, namun tidak tahu ditujukan untuk siapa?

Merasakan kesepian yang memuncak, menusuk, dan tidak bisa disembuhkan hiruk pikuk, kerumunan, atau hentak detak apapun?

Merasakan kehampaan yang tidak bisa diisi dan terpenuhi dengan gelak tawa, ria canda, atau keriangan apapun?

 

 

 


Konsep

Ekspektasi: Menikmati rintik hujan di cafe tepi sungai, sambil memandangi aliran air yang kini semakin meninggi. Lantunan musik acoustik menjadi latar yang syahdu, meski sesekali mendampingi keheningan.

Realitas: Kuyup dan berteduh di warung kopi 24 jam, sambil cemas memandangi anak kali ciliwung yang terus naik. Anak-anak nongkrong terus-terusan nyanyi lagu yang tak pernah utuh, sekalinya terhenti langsung menimbulkan keheningan.

Kesimpulan: Hal-hal yang dipandang remeh sebenarnya bisa diromantisasi sih. Apalagi anggapan keren itu cuma konsep, buat di-share di path atau foto instagram. Kadang kala yang bisa dinikmati itu juga bukan hal yang kita mengerti kok, seperti gitaran anak-anak nongkrong ini.

Salam, dari Tampomas yang tetap jaya.

20140116-215302.jpg