di restoran padang

etalase hanya memperlihatkan piring kosong,
tanpa lauk-pauk terpajang.
pukul 10.55, restoran macam apa
yang belum buka menjelang makan siang.

menggubah puisi chairil, 
ini kali tak ada yang mencari cinta
di restoran padang.
aku kehilangan kamu 
yang selalu menatap penuh cinta
ke arah rendang.

kata si uda, beruntunglah dia yang
ditatap kamu penuh cinta,
seperti kamu menatap rendang.

tapi tatapan kamu tak istimewa hanya ke rendang,
tapi juga paru goreng kering,
dendeng batokok cabe ijo,
atau ayam panggang.

andai hidup hanya menyisakan
satu jenis makanan, katamu waktu itu,
semoga yang tersisa itu masakan padang.

hei, kamu curang. itu kan bukan sejenis,
melainkan beraneka jenis.
kamu pun berdalih, jika hidup menghadirkan
berbagai pilihan, mengapa kita terpaku
untuk memilih satu, di antara dua, tiga, atau empat pilihan.

kamu sepertinya selalu punya alasan untuk
menyederhanakan yang jamak menjadi sesuatu yang tunggal.
untuk banyak hal, kecuali aku dan kamu,
yang tak pernah menjadi kita.

dalam hati aku berkata:

aku tahu, hidup tidak pernah
menyediakanmu banyak pilihan.
kau selalu menapak jejak di setapak
yang telah disediakan.
termasuk, menyediakan dengan siapa
kau harus menjejak.
walau mungkin dengan tujuan baik,
agar kau tak pernah tersesat.

tapi lidah tak selalu senada dengan hati.
karena ada kata-kata yang tanpa sadar aku ucapkan:

aku rela jika tuhan hanya menghadirkanmu
sebagai satu-satunya pilihan.

kamu mendengar itu, tapi memilih diam.
kamu tak berani adu tatap,
dan mengalihkan pandangan ke rendang.

pukul 11.15, satu persatu piring kosong
di etalase mulai terisi.
kenangan akan kamu pun hilang perlahan.

ah, mengapa tuhan menghadirkanmu
jika tak bisa dijadikan satu-satunya pilihan.

tapi aku berharap, tuhan menghadirkan mantra
yang membuat kamu terus mengingatku
saat menatap
etalase masakan padang 

rawabelong, juni 2021


sebuah surat untuk diriku enam tahun lalu…

kamu masih 32 ketika dia menikah di usia 36, enam tahun lalu. usia yang relatif muda, tapi entah kenapa duniamu sudah menemui tua saat itu.

kamu memaksa diri untuk bijaksana: bahwa dunia tidak tiba-tiba berhenti berputar; bumi masih berputar pada porosnya; langit belum runtuh.

namun, semua kebijaksanaan itu akan hancur seketika: saat sadar bahwa tidak sepantasnya lagi ada nama yang biasa kamu selipkan dalam doa. nama yang bahkan membuat kamu percaya lagi akan intervensi ilahiah.

duniamu runtuh saat itu. kamu menjadi manusia yang bernapas, bergerak, beraktivitas, tapi tanpa hasrat, tanpa asa, tanpa antusiasme.

kamu kemudian berhenti dari pekerjaan. hal spontan yang awalnya kamu lakukan dengan alasan suntuk dan muak akan rutinitas harian. akan tetapi, cita-cita untuk terbebas dari budak korporat tetap tidak akan pernah menyembuhkan lukamu itu.

tentu kau tahu bahwa patah hati lebih baik dijalani dengan isi tabungan yang cukup. sebab, patah hati saat miskin memang lebih mendekatkanmu dengan tuhan, tentu dengan cara yang tak baik, yaitu mengakhiri hidupmu sendiri.

namun, kelak kamu pun menyadari bahwa alasan kamu berhenti saat itu bukan gagah-gagahan berupaya merdeka atas belenggu korporasi. tapi, alasan kamu berhenti adalah dampak dari duniamu yang sudah runtuh. duniamu berhenti ketika itu, saat orang yang membuatmu berdoa sungguh-sungguh, ternyata tak ditakdirkan bersanding denganmu.

kelak, kamu juga akan menyadari bahwa begitu banyak orang yang berusaha memperbaiki hatimu yang retak. hanya saja, tidak pernah kamu biarkan mendekat. hubungan yang sudah terjalin pun kau pegat.

jika kamu sudah dalam posisi menyadari itu, ingatlah bahwa jalan ceritamu bukan besutan gabriel garcia marquez. kamu bukan florentina ariza yang berikrar setia untuk hanya mencintai fermina daza, meski bisa tetap bersenggama dengan perempuan lainnya.

jika kamu bertanya-tanya tentang siapa orang sok tahu yang menulis ini, anggap saja aku adalah puncak dari kesia-sianmu. enam tahun berjalan, dan begitu banyak penyesalan akibat hal-hal yang terlewatkan.

hal yang semestinya bisa menjadi warna untuk hidupmu yang monokrom. menjadi ultra hd untuk hidupmu yang low-res.

jika kamu membaca ini dengan penuh kesadaran, tak banyak yang ingin kusampaikan. aku tidak ingin membuatmu melupakan dia yang pernah hadir dalam doa di malam-malam yang panjang. karena keberadaan dia menjadi fragmen paling berharga untuk jadi pelajaran dalam hidupmu: bahwa seseorang bisa menemukan inner peace, dan kini dia telah menemukan makna bahagia setelah berdamai dengan amarahnya.

aku tidak ingin dia terus hadir dalam lekatan ingatan. karena, tentu kamu tahu bahwa tiap lekatan ingatan masih terasa sangat menyakitkan. seperti plester yang dipaksakan lepas pada luka yang masih basah.

tapi cobalah untuk menemukan inner peace-mu sendiri. tidak perlu menyembunyikan luka itu. biarlah itu tetap terlihat sebagai bagian dari perjalanan hidupmu.

setelah menerima luka, yang paling sulit berikutnya adalah mencoba untuk berhenti menyalahkan dirimu sendiri. berhenti mengutuk diri sendiri atas berbagai hal-hal yang terlanjur terjadi di masa lalu. karena untuk melangkah ke tahap selanjutnya akan sulit jika tidak percaya dengan diri kita sendiri.

kemudian, belajarlah percaya cinta, bukan sebagai sesuatu yang berbau merah jambu. tapi belajarlah mencintai diri sendiri. mencintai orang lain. mencintai dengan mempercayai. mencintai dengan mendekap berbagai konsekuensi: penolakan, ketidaksetiaan, hingga pengkhianatan.

jika menghadapi konsekuensi itu, yang perlu kamu lakukan cukup meninggalkan. jangan buang energi untuk seseorang yang membuatmu merasa tak berharga.

hal yang juga penting kamu tanamkan adalah, jangan pernah takut menghadapi dampak dari hal buruk yang kamu lakukan di masa lalu. tak perlu lari atau menghindari. ingatlah bahwa semua masalah ada kedaluwarsanya.

terakhir, aku ingin kita punya mimpi lagi. seperti yang kita pernah punya saat usia 20. beberapa mimpi itu ada yang sudah tercapai. dan itu menjadi bukti bahwa kekuatan mimpi bukanlah ucapan bullshit para motivator.

suatu saat, aku akan menulis lagi tentang mimpi-mimpi itu. mimpi mungkin sesuatu yang tidak pernah kita punya selama enam tahun terakhir. bisa jadi mimpi hanya milik mereka yang tidur. tetapi aku tahu bahwa hanya pengecut paling pecundang yang tidak berani bermimpi.

rawabelong, desember 2020


tentang menemukan dan kehilangan

aku masih ingat kata-kata itu. selalu terngiang, seperti baru saja kamu bisikkan sedetik lalu: “berhentilah mencari, maka engkau akan menemukan…”

aku tahu, aku tahu karena saat kamu bisikkan kata-kata itu, aku tidak ingin lagi mencari. aku pernah merasa menemukan, bahkan sebelum kata-kata itu kamu ucapkan.

aku telah menemukan yang dicari itu, kali pertama melihatmu. saat aku menemukanmu.

“ah, pasti kau ucapkan semua itu ke tiap perempuan.”

ah, andai saja aku pernah mengucapkan itu ke seorang perempuan saja, maka apalah arti pencarian ini. tapi sumpah mati, aku tak pernah ingat perjumpaan pertama dengan perempuan mana pun…

kecuali kamu.

aku ingat setiap detail, mulai ketika pintu lift terbuka dan memperlihatkan parasmu yang ayu. tapi kamu tidak anggun seperti putri-putri di film disney itu. malah kamu keluar lift dengan tawa terbahak, disusul dengan teriakan, makian tepatnya, yang tentu tidak kamu niatkan sungguh-sungguh. karena setelah mengenalmu aku tahu, kamu menyembunyikan kelembutan seperti politisi busuk menyembunyikan uang haram. sesuatu yang jelas ada, hanya perlu ketekunan untuk menemukan.

ah, aku bisa saja melanjutkan, tentu dengan detail kecil yang masih melekat dalam ingatan. tapi tiap lekatan ingatan terasa sangat menyakitkan. seperti plester yang dipaksakan lepas pada luka yang masih basah.

apalagi, mengenangmu hanya kembali mengingatkanku bahwa tidak semua yang kita temukan, dapat kita simpan. no finders keepers.

dan kini, aku tidak tahu lagi makna pencarian. aku cuma tahu tentang kehilangan. terutama kehilangan hal teristimewa yang pernah aku temukan.

“kamu tidak perlu menemukanku. kamu hanya perlu menemukan ‘kamu’… menemukan kedamaian dalam diri kamu. inner peace.”

ah, puan.. andai kamu tahu bahwa kamu juga yang menyadarkanku bahwa kata-kata yang kamu kutip dari film animasi itu bukan bualan. aku tahu, bukan karena aku menemukan kedamaian diri itu.

aku tahu itu karena melihat, merasakan, meresapi bahwa kamu telah menemukan inner peace itu.

kamu telah menemukan inner peace ketika tak ada lagi yang dicari, kamu telah menemukan itu ketika tak ada lagi yang berusaha dilupakan. kamu telah menemukan itu, sedetik setelah belajar memaafkan.

tapi jika suatu saat kamu kembali merasa kehilangan. ketika suatu ketika kamu merasa ada yang perlu dicari. ketika kamu merasa ada yang perlu dikenang kembali… kenang saja kata-kata ini:

kamu telah membuat aku memahami makna kehilangan, sekaligus menemukan.

jadi jangan pernah merasa ada yang hilang ketika semua telah kamu temukan. dan sekarang, kembalilah bersama inner peace-mu itu.

yogya-jakarta, 2017


never-ever-land…

never-ever-land


tesaurus

jika cinta adalah hipernim
maka kamu adalah
hiponim yang paling berelasi makna

namun,
aku sekadar ada
untuk menjadi
antonim
untuk kamu

aku, kamu, memang ditakdirkan
tak pernah bersisian

padahal aku, kamu, termaktub dalam
kitab yang sama
tapi nasib menjadikannya berjarak;
tak pernah dalam halaman atau
bab yang sama

jika hanya aku,
jika tanpa kamu,
maka kita seharusnya menjadi
lema yang ditiadakan

palmerah, 2016


bangku taman

bangku-taman

jika suatu saat kau memilih untuk menoleh,
ketahuilah bahwa tak sedetik pun
aku berharap kau berpaling ke belakang

dan kau pun hanya akan mendapatkan
taman yang lapang sejauh mata memandang
yang mungkin hanya menyisakan
sebidang bangku taman

tapi, bukankah hidup menjadikan
nasib kita serupa bangku taman?
yang lebih sering berteman sepi
ketimbang ada yang mengisi

sebab semua yang hinggap memang
tak pernah punya niat untuk menetap

sebab yang singgah,
hanya butuh sandaran untuk melepas lelah,
hingga kemudian pergi

sebab yang datang tak selamanya hadir
untuk mengisi
mungkin hanya sekedar menunggu
seseorang, yang kemudian mengajaknya
beranjak..

pergi dan tak lagi kembali

tetapi, bukankah hidup mengutuk
kita untuk bernasib seperti
bangku taman?

juni, 2016


Tentang perjalanan via Kalimalang…

Melintasi Kalimalang dalam perjalanan Bekasi-Palmerah kali ini mengingatkan saya akan lagu Aha, “Stay on These Roads”.

Entah kenapa, muncul pertanyaan untuk mereka yang bertahan dalam sebuah perjalanan yang sarat kemacetan.

Kemacetan, tentu cuma sebagian hambatan dari perjalanan. Tadi, perjalanan sepanjang Kalimalang diwarnai hujan. Debu akibat pembangunan proyek jalan Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu), juga menjadikan perjalanan makin tidak menyenangkan. Belum lagi umpatan-umpatan yang muncul akibat aksi pengendara yang tidak beradab

Hidup tentu menawarkan sejumlah pilihan. Begitu pun perjalanan. Selalu ada alternatif atau jalur lain yang bisa kita tempuh selain melintasi Kalimalang.

Untuk menghindari Kalimalang, saya masih bisa memilih melewati Kranji, belok ke Bintara, hingga tembus ke Kanal Banjir Timur. Dari situ, perjalanan ke Palmerah bisa ditempuh dengan melewati kawasan Kuningan, Karet, dan Pejompongan.

Masing-masing jalur punya kerumitannya masing-masing. Tiap jalan punya karakteristiknya masing-masing. Mau bertahan dalam kemacetan, atau mencoba jalur lain yang lebih “menggoda” dan menawarkan rute yang lebih lowong tentu tetap ada konsekuensinya.

Seandainya bertahan, tentu harus kita bisa memperkirakan, di mana saja kemacetan itu akan muncul, dan kapan akan berakhir.

Kalau lewat Kalimalang, biasanya sih di Pasar Sumber Artha, lampu merah Klender, hingga sekitar Cipinang. Tapi jalur lancar akan terbentang selepas Kalimalang, di Cawang, MT Haryono, Gatot Subroto hingga ke Slipi.

Kalau pun hindari Kalimalang, ada kemungkinan jalan kosong terbentang di awal perjalanan. Sepanjang Kanal Banjir Timur masih sepi, tapi macet akan menghambat usai melewati flyover Kampung Melayu… terus hingga ke Karet Bivak.

Saya bukan tipe orang yang menyesali pilihan jalan yang telah diambil. Sebab, saya terbiasa untuk memperkirakan hambatan yang kira-kira membentang.

Nasib, mengutip Chairil, memang kesunyian masing-masing. Pun dengan perjalanan, penderitaan masing-masing.

Karena itu, tidak ada manfaatnya untuk menilai perjalanan orang lain. Bisa jadi ada yang menikmati perjalanan dalam kenyamanan mobil mewah, bahkan disopiri. Ada juga yang menumpang mobil (baca: kenyamanan) orang lain untuk mencapai tujuan.

Tapi persetan. Karena yang paling menyenangkan dalam sebuah perjalanan adalah proses yang dijalani, bukan sekedar sampai di tujuan.

Jadi buat mereka yang ragu untuk bertahan di jalan yang sedang ditempuh, ada pesan ini dari Aha:

“Stay on these roads.
Stay on, my love.
We shall meet.
I know, I know…
Where joy should reign!”

Palmerah, Februari 2016

kebetulan

londoneye1

 

hidup mungkin tidak pernah menghadirkan kita
jalan terbaik,
tapi cuma sekumpulan pilihan.

acak, dengan sejumlah kebetulan
yang saling berkelindan.

kebetulan saja kini kau memilih pergi…
larut dalam arus manusia yang bergegas.
jalan cepat, tanpa menoleh lagi ke belakang;
sebab waktu seperti terus memburu,
gerak lambat hanya akan membuatmu dimangsa kesia-siaan.

dan kebetulan saja aku tetap terpaku;
seperti bocah yang takjub dengan beragam keindahan
yang membuatku memilih diam

entah terpesona dengan kincir raksasa
yang terpampang indah
hingga enggan beranjak dari bangku taman

atau terpesona dengan alunan musik tiup pengamen jalanan
yang membius manusia dengan impian.
seperti tikus-tikus yang terjerat alunan pemusik dari hamelin.

kebetulan saja kau menganggap laju kereta underground
hanya wahana yang mengantarmu ke tempat tujuan

dan pemandangan di tiap stasiun kau anggap sekedar rutinitas
yang itu-itu saja:
kumpulan bocah yang hobi berkerumun, berlari, dan berteriak,
pasangan yang mencuri cumbu,
atau manusia yang hanya menundukkan wajah ke layar ponsel.

dan kebetulan saja aku memilih larut
dalam khayalan,
membayangkan kehidupan stasiun di bawah tanah ini serupa
alam rekaan di fiksi neil gaiman.

karena kelindan kisah
juga semata sebuah kebetulan,
bagaimana jika menunggu atau memburu
juga bermuara pada kesia-siaan?

london, november 2015


Rindu, Sepi, Hampa..

Pernahkah kalian merasakan rindu yang sangat mendesak, menggeliat, namun tidak tahu ditujukan untuk siapa?

Merasakan kesepian yang memuncak, menusuk, dan tidak bisa disembuhkan hiruk pikuk, kerumunan, atau hentak detak apapun?

Merasakan kehampaan yang tidak bisa diisi dan terpenuhi dengan gelak tawa, ria canda, atau keriangan apapun?

 

 

 


Konsep

Ekspektasi: Menikmati rintik hujan di cafe tepi sungai, sambil memandangi aliran air yang kini semakin meninggi. Lantunan musik acoustik menjadi latar yang syahdu, meski sesekali mendampingi keheningan.

Realitas: Kuyup dan berteduh di warung kopi 24 jam, sambil cemas memandangi anak kali ciliwung yang terus naik. Anak-anak nongkrong terus-terusan nyanyi lagu yang tak pernah utuh, sekalinya terhenti langsung menimbulkan keheningan.

Kesimpulan: Hal-hal yang dipandang remeh sebenarnya bisa diromantisasi sih. Apalagi anggapan keren itu cuma konsep, buat di-share di path atau foto instagram. Kadang kala yang bisa dinikmati itu juga bukan hal yang kita mengerti kok, seperti gitaran anak-anak nongkrong ini.

Salam, dari Tampomas yang tetap jaya.

20140116-215302.jpg